Home Palembang Bentengi Masyarakat dari Berita “Hoak” Ini yang Dilakukan Pemerintah

Bentengi Masyarakat dari Berita “Hoak” Ini yang Dilakukan Pemerintah

241
0

PALEMBANG,- Usai dikukukan 13 Juli lalu, Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kota Palembang, langsung diberi pembekalan untuk turut serta dalam menangulangi berita Hoak, Senin (17/7/2017) di Hotel Excelton Palembang.

Pembekalan pengetahuan tentang cara membedakan berita fakta dan hoak ini, dikemas oleh Dinas Komunikas dan Informatika (Diskominfo) Kota Palembang bersama Kementria Kominfo dalam tatap muka temu lembaga komunikasi social.

Wali Kota Palembang, Harnojoyo melalui  Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahtaraan Rakyat Setda Kota Palembang  Sulaiman Amin  mengatakan, setelah dilaunching beberapa waktu lalu diteruskan dengan membekali anggota KIM dengan pengetahuan tentang ilmu komunikasi terutama tentang antisipasi berita hoax.

“Maraknya peredaran berita hoak di linimedisosial (medsos) cukup meresahkan sejumlah pihak,” kata Sulaiman.

Tidak sedikit berita Hoak ini, kata Sulaiman Amin sudah tertelan dimasyarakat, sehingga banyak membentuk opini yang salah.

“Berita Hoak bisa menjadi pemicu kesalahan dimasyarakat,” tegasnya.

Lantas apa yang harus dilakukan, menurutnya, aga bisa memberantas itu pemerintah harus mempunyai jurus jitu.

Kita harus memperbanyak pagar –pagar pengaman, semisal KIM ini, mereka ini lah yang memberikan informasi kemasyarakat untuk memberitahukan berita yang benar,” katanya.

Apalagi Palembang merupakan kota yang dipercaya sebagai tuan rumah Asian Games 2018 dan akan dilaksanakan juga pesta politik (Pilkada), yang mana kondisi ini rawan untuk dipecah belah.

 “Dengan informasi yang baik dapat menciptakan kondisi yang kondusif, bukan sebaliknya,” ulasnya.

Menurut Sulaiman KIM ini merupakan corong pemerintah, sehingga apa yang tidak dapat disampaikan langsung oleh pemerintah ke masyarakat akan disampaikan KIM, terkait program, informasi, pelayanan atau yang menyangkut tentang pemerintah lainnya.

Sementara itu, Staff alhi Kementerian Kominfo dan Informasi  Bidang Hukum, Henry Subiakto menjelaskan ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memberantas berita hoax, yakni pertama dengan kegiatan literasi kepada masyarakat, kedua penegakan Undang-Undang Infomarsi dan Transaksi Elektronik, dan terakhir kerjasama dengan banyak pihak.

“Termasuk peran MUI sangat penting, melalui pendekatan  keagamaan,” jelas dia.

Selain itu, pihaknya pun mengkhawatirkan bermunculannya media-media “abal-abal”.

Media ini merupakan media yang dibuat dengan tidak berkomitmen dengan kode etik jurnalistik, tidak dapat dipertangungjawabkan, tidak dapat dimintai klarifikasi.

“Media “abal-abal” ada ribuan. Ciri media ini tidak perlu kantor, tidak tahu siapa pengelolanya,  tidak perlu tenaga wartawan, tinggal copy paste saja.  Ini sangat bahaya dapt membunuh media konvensional yang ada. Media ini dapat dipakai untuk alat politik dan menghasilkan uang. Ini profesi baru,” terangnya.

Senada, Sekertaris Majelis Ulama Indonesia (MUi) Palembang, Syaifudin menegaskan sebelum membagi informasi harus tabayun atau klarifikasi terlebih dahulu. “Kroscek dulu, baca dulu, baru diyakini apakah informasi itu benar atau tidak. MUI mengingatkan masyarakat untuk saring informasi sebelum dishare,” terangnya.

Sementara Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Kota Palembang, Yanuarpan Yani menyebutkan kegiatan Temu Lembaga Komunikasi Sosial diikuti 75 peserta yang merupakan anggota KIM dari utusan masing-masing kecamatan. Dikatakan juga, jika anggota KIM di Palembang  saat ini berjumlah 1070 orang, dimana setiap kekurahn terdapat 10 anggota KIM.

“Mereka merupakan perpanjangan tangan pemerintah yang akan menginformasikan kepada masyarakat, tentunya informasi benar, dan juga keberadaan  KIM ini untuk mengantisipasi berita hoax,” ulasnya. (ratih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here