Home Palembang Harnojoyo Bertekad Tidak ada lagi Warganya Dipasung Karena Ganguan Jiwa

Harnojoyo Bertekad Tidak ada lagi Warganya Dipasung Karena Ganguan Jiwa

278
0

“Katanya dipasung karena sering melukai warga, tetapi tidak begitu caranya harus dipasung,” jelas Harnojoyo.

PALEMBANG, Praktek pemasungan manusia masih saja terjadi di Kota Palembang, melihat kenyataan memilukan ini Walikota Palembang H.Harnojoyo bertekad akan membebaskan adanya warga yang terpasung selama 15 tahun lamanya di wilayah Jalan Ogan, Lorong Bersatu, Kelurahan Bukit Lama.

Saparuddin atau Udin (45) anak Mariam ini, ditemukan Walikota Palembang H.Harnojoyo dalam kondisi terpasung didalam rumah terbuat dari papan yang sangat sempit   saat melakukan sholat subuh berjamaah di Masjid Irsyad Jalan Cut Nyak Dien RT 40 Rw 14 Kelurahan 30 Ilir Kecamatan Ilir Barat II Palembang,Senin (5/6/2017).

“Katanya dipasung karena sering melukai warga, tetapi tidak begitu caranya harus dipasung,” jelas Harnojoyo.

 Menurut, orang nomor satu di kota tertua di Indonesia ini, tidak ada penyakit yang tidak dapat diobati, terlebih di era teknologi dengan ketersedian sarana dan prasarana yang ada, seperti

rumah sakit khusus untuk Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

“Jadi namanya pemasungan tidak dibenarkan untuk melakukan pengobatan kepada orang yang terkenan ganguan jiwa,’ tegasnya.

Harno menceritakan, dari keterangan kakaknya, Udin, Udin  sudah di pasung sejak 2002.

Dari penuturan cerita kakak Udin ini, kata Harnojoyo diketahui  Udin pernah dilakukan pengobatan dan sempat sembuh, namun kembali lagi mengalami gangguan jiwa dan sempat melukai sang kakak.

“Karena kekhawatiran itu, keluarga melakukan pemasungan terhadap Udin,” terangnya.

Harnonoyo mengatakan, melalui pihak Kecamatan dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, agar dilakukan pendataan terkait dengan adanya korban pemasungan di Kota Palembang.

Karena, berdasarkan informasi, ada beberapa korban pemasungan oleh keluarganya di beberapa wilayah di Palembang.

“Kita harap tidak ada lagi cara pemasungan bagi orang yang mengalami gangguan jiwa. Kita minta masyarakat dapat saling bahu membahu untuk menghentikan prakit pasung yang justru akan membuat orang hang di pasung semakin para,” tandasnya.

Sementara itu, Mariam ibu Saparudin menyampaikan, pemasungan yang dilakuan keluarga, karena yang dirinya dan keluarga selalu dihantui ketakutan akan tingkah laku sang anak yang susah ditebak.

Mariam yang sudah lama lumpuh, takut nyawanya akan terancam karena Udin kerap menghancurkan berbagai perabot rumah hingga mengganggu tetangga dekat.

“Sewaktu belum dipasung, kami selalu selalu ketakutan. Apalagi saya tinggal sendiri, takutnya Udin melakuka hal-hal yang berbahaya,” tuturnya.

Mariam beruntung anak kelimanya, Ilyas (47) bersama istrinya yang tinggal didekat rumahnya masih terus membantu.

“Jika tidak dipasung kita sendiri yang akan kerepotan. Karena dia pernah merusak rumah tetangga, akhirnya kami sepakat untuk memasungnya,” ujarnya.

Kedatangan Walikota membuat drinya gembira, karena Udin harus dihentikan pengobatannya karena keterbatasan biaya.

Karena, sekitar tahun 2015 lalu, Udin sempat dibawa keluarganya untuk mengikuti serangkaian pengobatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Ernaldi Bahar Palembang. Setelah tiga minggu menjalani masa rehabilitasi, Udin dinyatakan sembuh dan bisa menjalani aktifitas seperti yang lainnya.

Dua hari pertama, Udin terlihat seperti orang normal pada umumnya. Namun memasuki hari ketiga, sikap tak terkontrol Udin mulai terlihat. Anak bungsu dari sembilan bersaudara ini bahkan melukai kakaknya yang berada didalam rumah dengan silet.

“Karena ketiadaan biaya dan waktu untuk membawa lagi ke RSJ Ernaldi Bahar, akhirnya Udin dipasung didalam rumah. Kami juga belum mendapatkan Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu. Mudah-mudahan kedatangan Walikota dapat mengobati Udin,” harapnya.(ratih)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here